Analisis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

ANALISIS KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2004 (KBK) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan/sekolah (Muslih, 2007). KTSP lahir karena dianggap KBK masih sarat dengan beban belajar dan pemerintah pusat dalam hal ini Depdiknas masih dipandang terlalu intervensi dalam pengembangan kurikulum. Penyususan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Sementara Joko Susilo (2007) mengatakan KTSP merupakan suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu, dan efisien pendidikan agar dapat memodifikasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah, masyarakat, industri, dan pemerintah dalam membentuk pribadi peserta didik.

Kelebihan KTSP

  1. Mendorong terwujudnya otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan.

KTSP memberikan otonomi luas kepada sekolah karena diberikannya kebebasan dalam mengembangkan kurikulum. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar, dan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. Maka dari itu dalam pengembangan kurikulum disertai seperangkat kewajiban, serta monitoring dan tuntutan pertanggungjawaban yang relative tinggi untuk menjamin bahwa sekolah selain memiliki otonomi luas juga memiliki kewajiban melaksanakan kebijakan pemerintah dan memenuhi harapan masyarakat. Sekolah memiliki kewajiban untuk melaksanakan pelayanan prima yang berusaha untuk memuaskan pengguna jasa (customer satisfaction) dalam hal ini peserta didik dan orangtua murid.

  1. Mendorong tenaga kependidikan untuk semakin meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program pendidikan.

KTSP menuntut kinerja sekolah terutama guru dalam implementasinya. Oleh sebab itu guru harus senantiasa mengembangkan kemampuan dan keterampilan profesionalismenya. Hal ini dilakukan melalui KKG atau MGMP. Pemberdayaan KKG dan MGMP dapat meningkatkan kualitas dan kompetensi guru dalam menyususn, merumuskan, melaksanakan, dan melakukan penilaian dalam pembelajaran. Kekompakan guru sebagai tim pengembang kurikulum perlu ditingkatkan untuk memberdayakan KKG dan MGMP

  1. Memberikan kesempatan bagi masyarakat dan orang tua untuk berpartisipasi dalam menentukan arah kebijakan pendidikan di sekolah.

Dalam pengembangan KTSP, wujud partisipasi masyarakat dan orang tua murid tidak hanya dalam bentuk financial. Ide, gagasan dan pemikiran masyarakat sangat dipertimbangkan untuk dapat menunjang keberhasilan sekolah. Sekolah dalam hal ini berupaya untuk menumbuhkan kesadaran pada masyarakat dan orang tua murid dengan cara memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam menentukan arah kebijakan pendidikan di sekolah. Hal ini dikarenakan sekolah adalah lembaga yang harus didukung oleh semua pihak. Keberhasilan sekolah adalah kebanggaan bagi masyarakat, dan untuk mewujudkannya diperlukan kerjasama yang harmonis.

Kelemahan KTSP

  1. Kurangnya sumber daya manusia yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada.

 Dalam pelaksanaan KTSP masih ditemukan guru yang bekerja tidak sesuai dengan bidang kompetensinya sehingga kualitas pendidik dianggap minim. Selain itu belum terpenuhinya standarisasi mutu pendidikan nasional dan juga guru mengajar tidak selaras dengan bidang keahliannya. Hal ini berdampak pada tenaga pengajar yang belum bisa diharapkan memberikan kontribusi pemikiran dan ide-ide kreatif untuk menjabarkan panduan kurikulum itu (KTSP), baik di atas kertas maupun di depan kelas. Selain disebabkan oleh rendahnya kualifikasi, juga disebabkan pola kurikulum lama yang terlanjur mengekang kreativitas guru.

  1. Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai kelengkapan dari pelaksaan KTSP.

Kondisi di lapangan menunjukkan masih banyak satuan pendidikan yang minim alat peraga, laboratorium serta fasilitas penunjang yang menjadi syarat utama pemberlakuan KTSP. Padahal ketersediaan sarana dan prasarana yang lengkap dan representatif merupakan salah satu syarat yang paling urgen bagi pelaksanaan KTSP.

  1. Masih banyak tenaga pendidik yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik konsepnya, penyusunannya maupun prakteknya di lapangan.

Dalam KTSP, guru maupun kepala sekolah merupakan kunci utama untuk mewujudkan keberhasilan pengembangan KTSP. Namun dalam realitanya masih banyak praktisi pendidikan termasuk guru yang tidak memahami kurikulum secara benar seperti hanya mengandalkan pada buku pegangan yang diterbitkan salah satu penerbit, kurang menghayati kurikulum kemudian menjabarkannya dalam bentuk perancanaan pembelajaran. Salah satu faktor penyebabnya adalah belum berjalannya sosialisasi secara menyeluruh kepada tenaga pendidik yang terlibat dalam proses pengajaran di kelas.

REFERENSI

Mulyasa, E. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Muslich. M. 2007. KTSP Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara

Susilo, M. J. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

https://www.academia.edu/6425816/86_KAJIAN_PELAKSANAAN_KURIKULUM_TINGKAT_SATUAN_PENDIDIKAN_KTSP_KIMIA_SMA_NEGERI_DI_SUMATERA_UTARA_Saronom_Silaban diakses pada 03 April 2019 pukul 20.28

https://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2017/04/26/tentang-ktsp-permasalahan-kelebihan-kekurangan-dan-tantangannya/amp/  diakses pada 03 April 2019 pukul 21.00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

29 − 20 =